Ads 368x60px

SEMANGAT MENULIS KATA

Sabtu, Maret 03, 2012

SEKILAS FILM NEGERI 5 MENARA




Selasa siang tanggal 28 feb 2012 teather 21 cilegon di Ramayana ramai di kunjungi oleh alumni-alumni pesantren gontor. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di provinsi banten. Para alumni sudah memadati teather 21 cilegon mulai dari jam 11 siang. Mereka datang dengan antusias untuk menyaksikan tayangan film negeri 5 menara yang di tulis oleh alumni gontor Ahmad Fuadi. Film ini begitu menarik para alumni gontor, karena background pembuatan filmnya menggunakan tempat di gontor, sehingga hal inilah yang menyebabkan mereka antusias untuk menyaksikan. mereka ingin bernostalgia terhadap almamaternya yang sudah sekian lama mereka tinggalkan, mereka ingin melihat wajah pesantren dimata perfilman di negeri ini.
Film ini menceritakan kebanyakan para pencari ilmu yang enggan untuk belajar di pesantren. Pergolakan anak-anak cerdas dalam mencari ilmu pengetahuan yang tidak ingin belajar di pesantren. Dalam anggapan mereka bahwa pesantren hanyalah mengajarkan ilmu agama yang tidak banyak memberikan manfaat di kehidupan kelak, kumuh, bersarung serta kitab-kitab klasik. Tetapi keinginan tersebut bertabrakan dengan keinginan orang tua yang sudah memakan garam kehidupan. Orang tua memandang bahwa pesantrenlah yang mampu membekali anak-anaknya untuk mengarungi kehidupannya. Sebab menurut orang tua bahwa keilmuan apapun jika tidak digunakan oleh orang yang mampu mempergunakannya, maka keilmuan tersebut akan sia-sia.
Si Alif merupakan pemeran utama dalam film ini. Alif merasa kecerdasan yang dimilikinya akan sia-sia jika hanya di sekolahkan di pesantren. Si alif ingin mengejar cita-citanya sebagai orang yang sukses di bidangnya, sehingga si alif ingin melanjutkan sekolahnya di SMA Bandung dan meneruskan di ITB. Yang menurut alif dan kawan-kawannya akan menghantarkan mereka kepada kesuksesan. Sehingga saat di pesantren ujian tes masuk pesantren dilaksanakan, alif ingin menggagalkanya agar tidak masuk dalam pesantren. Tetapi keinginan tersebut berbentunturan dengan keihlasan dan kesungguh-sungguhan keinginan orang tuanyauntuk memasukkan dirinya ke pesantren, akhirnya pudarlah keinginan tersebut. Orang tuanya ingin dirinya seperti Buya HAMKA.
Hari demi hari aktifitas alif tak menampakkan kegairahannya dalam mengikuti kegiatan pesantren, wajahnya tampak begitu murung tak sebahagia dengan teman-temannya yang asyik mengikuti kegiatan pendidikan. Masuk pertama di kelas persiapan, alif dan kawan-kawannya di bekali gurunya dengan mantra “man jadda wa jada” barang siapa yang bersungguh-sungguh sukseslah dia. Guru mempraktekkan dengan memotong kayu kering dengan parang yang tumpul. Dengan kesungguhan sang guru dapat mematahkan kayu tersebut. Guru memberikan keterangan bahwa bukanlah ketajaman parang untuk memotong kayu tapi ketajaman kesungguh-sungguhlah yang dapat mematahkan kayu tersebut.
Bulan demi bulan dilaluinya di bawah menara masjid bersama teman-temannya, sehingga mereka mendapat julukan dengan shohibul manara. Dibawah menara inilah bereka bertekat dan bermimpi untuk dapat mengunjungi Negara-negara yang terdapat banunan menaranya. Indonesia, mesir, amerika, prancis, inggris, mereka berjanji jika sudah sampai Negara-negara tersebut membawa foto dengan background menara kemegahannya.
Pesan yang ingin disampaikan dalam film ini adalah kesungguh-sungguhan dalam melaksanakan sesuatu. Bukanlah SMA yang akan menghantarkan kepada keberhasilan seseorang, bukanlah ITB yang menjadikan mereka sukses tetapi yang akan menghantarkan kesuksesan adalah kesungguh-sungguhan dalam meraih hal itu, walau memulai dari beberapa kekurangan. Laksana parang tumbul yang mematahkan kayu kering.
Film ini memiliki durasi sekitar 2 jam. Banyak cerita yang monoton sehingga membosankan untuk di tonton, banyak alur cerita yang dapat dibaca oleh penonton. Film ini seperti dekomenter yang hanya mengumpulkan beberapa kejadian kemudian diganti pemeran dan alur ceritannya, sehingga tidak begitu menarik. Pesan man jadda wajadanya hanya bagus penggambarannya saat sang guru memotong batang kayu kering dengan parang tumpul. Sedangkan saat membetulkan diesel yang rusak serta saat pementasan seni kurang begitu memberikan pesan yang dapat diterima langsung oleh penonton.
Dalam melihat film ini dibutuhkan pemikiran yang serius. Penonton tidak di sajikan tontonan yang mudah untuk dicerna. Jika para alumni gontor mungkin akan mudah mencernanya, sebab mereka pernah merasakan kejadian-kejadian tersebut. Selain itu kejadian-kejadian dialam film tersebut belum sebagus penggambarannya dengan gambaran orang-orang pesantren yang sesungguhnya. Jika di bandingkan dengan film yang juga sama-sama diambil dari cerita novel lascar pelangi, film lascar pelangi menurut penulis lebih bagus penggambarannya. Selain penonton dihibur dengan adegan-adegan lucu juga penonton diberikan pesan-pesan yang mudah yang dapat menarik rasa empati dan simpati dengan kejadian tersebut. Tapi di film negeri 5 menara ini hanya mampu mengingatkan para santri dalam perjuangannya.
Mungkin film ini akan bagus jika dilanjutkan bagaimana shohibul menara dalam meraih kesuksesannya dimenara Negara-negara impiannya. Sebab di alur cerita negeri 5 menara belum terceritakan dengan detail bagaimana mereka meraih impian tersebut sampai berhasil. Mungkin cerita pesantren tidak akan habis dalam satu film. Semoga film negeri 5 menara dapat memberikan gambaran terhadap orang-orang yang masih awam terhadap dunia pesantren. Kemudian dapat memberikan inspirasi terhadap para alumninya untuk dapat berperan lebih baik dimasyarakat. Bagi anda yang belum menyaksikan film ini, insya allah film ini akan diputar di bioskop-bioskop tanah air mulai tanggal 1 maret 2012. Selamat menyaksikan……. MAN JADDA WA JADA

Tidak ada komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini